25 April 2010

sabar dan Ikhlas

bukan,
bukan Judul sinetron terbaru di stasiun TV swasta nasional.
layaknya Shafa dan Marwah, Kasih dan Sayang pun Cinta dan Anugerah

sabar dan ikhlas dalam arti yang sebenarnya.

minggu kemarin adalah ujian kesabaran dan pelajaran keikhlasan buat saya.
Ujian sudah selesai,pelajaran sudah diberikan
namun saya tak tahu apa hasilnya.
Mungkin gagal, mungkin lulus atau mungkin juga lulus dengan percobaan namun mustahil lulus dengan pujian.


Saya,
gampang marah,
mungkin galak.
berani,
mungkin bersemangat.

tapi saya baik hati dan tidak sombong *narsis....



namun jikalaupun saya marah, saya kasar, saya galak..
semua itu tanpa ada emosi yang memegang kendali.
kalaupun ada, sebisa mungkin saya akan mengendalikan diri agar tidak terlibat emosi didalamnya....

karena ketika emosi itu sudah melibatkan dirinya dan menguasai sebagian besar hati saya, bulir-bulir air mata seketika itu juga berserikat dan berkumpul untuk bersama-sama terjun bebas dari kelopak mata.
dan bahkan sepatah katapun takkan bisa lagi terucap dari bibir saya.

Hal itulah yang selama ini terjadi sehingga bila emosi sudah menguasai hati (lagi-lagi pilihan kata yang hiperbolik)
saya lebih memilih diam dan lari
karena saya tidak mau ada yang melihat air mata jatuh dr mata indah ini ;-p



Hal itulah yang selama ini terjadi, selama hidup saya di bumi Tuhan yang indah ini.

Dan tidak pernah terfikir bahwa ada reaksi lain yang bs terjadi dlm diri saya ketika keadaan yg sama terjadi.
Jujur, ini bukan reaksi yang saya harapkan, bukan sikap yang saya inginkan.


maaf bila ada yang tersakiti karenanya.
Permohonan Ampun kepada Tuhan telah saya sampaikan setiap akhir shalat saya,
namun ampunan Tuhan takkan terkabul tanpa pemberian maaf dari mahluk-Nya.


seperti kata Sherina ketika imut-imutnya dia dulu :

setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan, tapi hannya yang pemberani yang mau mengakui
setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati, hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan





Dan kemarin, Handphone saya raib T_T
tiada angin, tiada hujan.
tidak ada tanda-tanda ataupun peringatan.


Hilang tak berbekas sama sekali,
bagai di telan bumi.
Handphone saya,
kesayangan saya.
handphone pertama hasil keringat sendiri,
sudah bersama saya selama lebih kurang sembilan bulan sepuluh hari,
saya merasa kehilangan sekali.



Dari sini saya belajar mengikhlaskan,
sesayang apapun saya padanya, se- tidak rela apapun saya atas perginya
toh dia tak bisa ditemukan lagi.

yang saya bisa cuma mengikhlaskan,
bahwa mungkin hak saya atasnya hanya sembilan bulan ini
bahwa mungkin jodoh kami hanya sampai disini,
dan memang harus diikhlaskan karena semua yang ada pada saya sampai sekarang ini hanyalah titipan yang harus saya pertanggungjawabkan di akhir nanti...



Doakan handphone saya ya teman-teman,
berbahagia dimanapun nanti ia berada dan semoga keberadaanya bermanfaat bagi kemaslahatan ummat (halah.... apa ini....)


Maka, meskipun tentu saja banyak hal-hal yang tidak sesuai rencana,
Alhamdulillah, sampai hari ini segalanya berjalan dengan baik.


seperti kalimat terakhir di serial Harry Potter.

All was well.......

25 Maret 2010

Ketika Ayah Sakit

Laki-laki itu ternyata sensitif
namun tidak pernah menunjukkan dan akan selalu berpura-pura kuat

Baru menyadari itu ketika Ayah saya sakit


Ayah saya yang dari foto album masa mudanya terlihat begitu gagah di mata saya
ayah saya yang selalu siap sedia kemana-mana, ngojek motor ataupun sopir mobil demi Ibu dan saya,
Ayah saya yang keliatan menyeramkan dengan kumis dan jenggot tebal kemana-mana
Ayah saya yang selau ribut jika adzan Magbrib berkumandang saya belum di rumah, namun tidak berkata apa-apa ketika putri satu-satunya ini tiba


Ketika beliau sakit, entah mengapa beliau menjadi lebih perasa
Hampir setiap pagi bertanya,apakah kakak saya yang sekarang berada di Malang bersama keluarga kecilnya menelpon


Dan satu cerita Ibu minggu sore kemarin yang membuat air mata saya meleleh bahkan hanya mengingatnya

Begini duduk perkaranya :
Once upon a time... (halah, apa ini)
dalam perjalanan Palembang-sekayu minggu kemarin, saya menelpon Nomer Ibu Saya
tapi ternyata Ayah yang menjawab..

Sebagai Informasi, Lokasi tempat saya bekerja itu, mencapainya harus melewati dusun-dusun dan desa-desa
Bahkan Simpati yang sinyalnya kuat, begitu dekat dan begitu nyata yang provider lain tak mampu menandinginya ;-D (saya tidak dibayar, sumpah....)
nyata-nyata tidak bisa mengcover desa yang saya lewati..



Itulah sebabnya mengapa terjadi miskomunikasi anatara saya dan Ayah
Saya bisa mendengar dengan jelas suara Ayah saya, tapi sekuat tenaga saya menjawab, beliau tidak mendengarnya, beliau hanya mendengar suara ribut-ribut obrolan saya dan teman-teman. Dan karena komunikasi yang hanya searah itu, Ponsel pun saya matikan..


Saya tidak pernah berpikir bahwa ternyata itu membuat hati Ayah terluka,
praduga berkeliaran di kepalanya
bahwa sang putri satu-satunya acuh kepadanya
bahwa si tewok kesayangannya ini lebih memilih berbicara kepada teman-temannya dibanding dia
bahwa bla...bla....bla.....

air mata saya menetes begitu saja mendengar Ibu bercerita
ah, ayah....
tidak mungkin saya berbuat seperti itu teganya
bahkan, tidak pun terpikirkan


Tetapi anehnya,
ketika sampai di rumah sakit tidak satu katapun tentang perasaannya yang dia ucapkan kepada saya..
yang ada hanyalah pertanyaan apakah perjalanan saya baik2 saja dan apakah si sopir travel mengantar sampai ke rumah..

dan menunjukkan kepada saya bahwa ayah sudah bisa berdiri dan berjalan kembali sperti semula
itu saja....



Ya,,
mungkin benar
Even in the weakest point in his life, Men never want to be seen weak especially in front of his beloved ones...